Text
Pavilyun Maria
Pavilyun Maria, sebagai bagian paling kecil dari sebuah rumah sakit, selalu dianggap paling tenang dan nyaman. Namun ternyata, Pavilyun Maria mampu melahirkan kegemparan.
Di sana terjadi kematian. Tentu kalau hanya kematian, bukan hal aneh. Rumah sakit mana yang tak mengenal kematian? Tapi bentuk kematian di Pavilyun Maria ini adalah bunuh diri. Padahal rumah sakit justru merupakan tempat di mana kehidupan diperjuangkan. Jelas, sekedar hidup saja tidaklah memuaskan, bila tidak mengandung warna ceria.
Bunuh diri selalu menggemparkan, biarpun tak terpuji. Tapi orang kerap kali melupakan, bahwa suatu pristiwa bunuh diri hampir selalu tidak berdiri sendiri, karena betapa pun sendirinya, seseorang tak hidup sendiri saja.
Setiap rumah sakit mempunyai personil, berua dokter, perawat dan tenaga lainnya. Dan sudah tentu juga pasien-pasien. Antara mereka pasti terjalin hubungan dari yang cuma sepintas, akrab, sampai ke cinta! Pavilyun Maria juga mengenal semua hal itu.
Tapi sayang, cinta juga mengenal keputusasaan. Dan akhirnya, memilih kematian sebagai jalan keluar. Namun caranya tentu saja tidak wajar, karena bentuknya adalah pembunuhan!
| P0000216F | 813 LES p | Perpustakaan (A02) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain